“Yanu,” sahut seorang wanita tua dari balik pintu, dengan langkah perlahan dia memasuki kamar,”Apa kamu tidak keluar rumah, nak? Bermainlah dengan anak-anak di luar”.
Eyang mendekatiku seraya memandang anak-anak di lapangan yang sedang bermain bola sepak,”Nak, lihatlah mereka”.
“Eyang, Yanu sedang belajar untuk persiapan olimpiade nanti,” kataku singkat, berharap Eyang tidak berkata lebih banyak lagi.
“Eyang tahu Yan,” lenguh wanita tua itu,”tapi apa kau tidak bisa beristirahat sejenak saja”.
Aku menghela nafas panjang, mencoba bersabar,”Maaf Eyang, tapi bisakah Eyang meninggalkan Yanu sendirian?”.
Eyang bergegas keluar dari kamar, melangkah lemah dengan elusan di dadanya. Sementara itu, Aku merebahkan diri di tempat tidur. Pikiranku melaut lepas pada serentetan tropi di dalam almari besar di ujung kamar, dan sesudahnya beralih pada sebingkai foto di meja belajar, foto mendiang Ayah dan Ibu. Sesudah beberapa menit yang terbuang sia-sia dirasa cukup, Aku beranjak kembali ke meja belajar, berinteraksi dengan buku-buku tebal itu. Namun sebelumnya, Aku melirik hampa pada segerombolan anak di lapangan sebelah rumah. Adakah guna dari yang mereka lakukan itu?
Esoknya, Aku berangkat sekolah pagi-pagi benar, berharap bisa meraih waktu lebih lama beberapa menit untuk melatih otakku.
“Yan,” panggil temanku, Eva.
Aku menoleh, menatapnya datar seraya bertanya dalam hati,”Ada apa?”.
“Kapan kita akan mendiskusikan tugas Biologi kita?”.
“Tenanglah Va, Aku sudah menyelesaikannya,” kataku santai,”Hasilnya akan Aku serahkan besok”.
“Tapi…”.
Sementara itu Aku sudah melangkah cepat ke dalam kelas, berharap tidak menyia-nyiakan waktuku yang lebih berharga dari pada tiara lautan.
Tugas bahasa Indonesia hari ini terasa alot bagiku, tidak seperti biasanya yang levelnya hanya seupil jari kelingking.
“…artikel tentang kehidupan masyarakat miskin di Jakarta”.
Sontak terdengar desah dan lenguh sebagian siswa, merengek seperti anak bayi yang belum diganti popoknya. Sementara itu Aku tersenyum kecut, terkekeh girang di dalam hati.
“Namun demikian, artikel ini harus ditulis dari hasil observasi di lapangan secara langsung!” tambah bu Nadya seraya meninggikan volume suaranya pada dua kata yang terakhir,”Kalian dilarang untuk hanya menggunakan intuisi, logika, dan segudang informasi cetek yang ada di benak kalian itu”.
Dadaku sesak, seakan tidak terisi oleh oksigen yang melayang-layang bebas. Aneh, sejujurnya baru kali pertama ini Aku merasakan keengganan dalam mengerjakan sebuah tugas. Bahkan kalau boleh menawar, Aku lebih bersedia mengerjakan seabreg soal-soal fisika dibandingkan mengerjakan tugas ini.
Sepulang sekolah Aku mampir terlebih dahulu ke sebuah toko buku di seberang sekolah. Sesampainya di sana Aku bergegas mencari dengan seksama buku-buku tebal yang sedang ku buru.
“Permisi,” sapaku pada seorang wanita penjaga toko,”Apa di sini ada ensiklopedia edisi terbaru?”.
Wanita itu menggeleng malu,”Maaf, tidak ada. Sebaiknya anda membeli buku-buku yang lain saja, di sini tersedia berbagai buku bacaan yang menarik lho”.
Aku menghela nafas, berkata dalam hati seraya menatap setiap sudut toko,”Yah, di toko ini terdapat banyak buku bacaan yang menarik, tetapi yang super menarik jumlahnya nol besar”.
Aku mengucapkan terima kasih, lalu berbalik, dan buru-buru melangkah ke pintu. Namun sebelum Aku meraih pegangan pintu tiba-tiba tubuhku terasa kaku, tak bisa tergerak selama beberapa saat. Sebaliknya mataku asyik memperhatikan sesosok anak kumal di luar, dia tampak sedang aduhai menatap toko buku ini. Seketika itu, tubuhku bergerak tanpa perintah otak, melangkah ke belakang dan buru-buru mengambil beberapa buah buku, lalu membayarkannya di kasir.
Melihat gelagakku, wanita penjaga toko tadi tampak melemparkan pandangan jijik.
“Ini untukmu,” Aku menyodorkan buku-buku itu pada anak kumal tadi, lalu menambahkan seketika anak itu membuka mulut,”Dan jangan banyak bertanya”.
“T–terima kasih,” sahutnya pelan, tampak ragu.
Bersamaan dengan itu terdengar decit mulus ban-ban mobil, sebuah mercedes mengkilap tampak berhenti sempurna di depan toko.
“Yanu, ayo pulang,” ajak Pak De dari dalam mobil.
“Ya,” sahutku seraya menghampiri mobil.
“Namamu Yanu?” tanya anak kumal itu tiba-tiba.
“Ya,” jawabku pelan seraya masuk ke dalam mobil, dalam sepersekian detik mobil menggerung pelan, dan sekejap kemudian mulai meluncur lepas.
“Namaku ASRUL!” seru anak itu, berharap aku mendengarnya dari dalam mobil.
Esok siangnya, sepulang dari sekolah Aku beranjak ke perpustakaan kota. Jaraknya dari sekolahku hanya 300 meter, sehingga Aku pun tidak perlu bersusah-susah untuk diantar Pak De atau naik taksi, cukup berjalan kaki. Sesampainya di pelataran perpustakaan, terdengar suara gertakan dan amarah yang meliuk cukup seru di telingaku ini. Seorang laki-laki berseragam biru tua sedang memaki habis-habisan seorang anak di depannya, remaja seumuranku.
“Kalau kau ingin memasuki perpustakaan ini setidaknya kenakanlah pakaian yang rapi,” hardiknya, “Jangan mengenakan baju gembel yang kumal, dekil dan berlubang-lubang ini”.
“Tapi pak, hanya baju ini yang saya miliki ta,” jawab Asrul, namun kalimatnya terpotong oleh hardikan laki-laki itu lagi.
“Kalau begitu carilah dulu uang yang banyak untuk membeli pakaian yang agak pantas untukmu!” ejeknya tanpa belas kasihan.
“Bagaimana bisa dia mencari uang yang banyak kalau otaknya kosong?” sindirku spontan,”Kalau begini jadinya, dia bakal jadi orang yang bebal seperti anda”.
Selama sepersekian detik laki-laki itu diam, tampak malu dan kalah.
“Maaf bung, tapi kalau dia memasuki perpustakaan dalam penampilan seperti ini bakal menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pengunjung yang lain”.
“Sebenarnya, apa tujuan dibangunnya sebuah perpustakaan, eh?” sindirku pada laki-laki itu, lalu melangkah masuk ke dalam perpustakaan.
“Hei bocah, ayo masuk!” seruku.
Di ruang depan perpustakaan, Aku bergegas melangkah ke sisi kanan “bagian penitipan”, menitipkan ranselku. Asrul pun mengikuti tindakanku, sementara itu dia menitipkan tas karung goninya yang tampak berisi.
Aku bergegas melangkah ke sebuah rak buku, mengambil beberapa buku-buku bercover tebal, lalu dengan goyah membawa buku-buku itu ke meja terdekat. Sementara itu Asrul tampak masih mengikutiku.
“Hei, apa yang kau lakukan?” bentakku pelan,”Urusi urusanmu sana”.
Asrul tidak memperhatikan omonganku, sebaliknya tiba-tiba dia berlari ke ruang depan, lalu dalam beberapa detik selanjutnya kembali berdiri di depanku.
“Ini,” kata Asrul, menyodorkan buku-buku yang hari lalu Aku hadiahkan kepadanya
“Tapi ini untukmu”.
“Aku sudah selesai membacanya,” jawab Asrul pelan,”Aku yakin kau pasti belum membacanya, jadi sekarang ini buatmu”.
Sesudah itu Asrul berbalik.
“Hei, mau ke mana kau?”.
“Pulang,” jawabnya,”Aku harus membantu pekerjaan Bapak di rumah”
Sesaat Aku menatap tajam Asrul, sosok itu memberikan sebuah ide fantastis di otakku.
Aku melangkah pelan di jalan berlapis tanah ini, mataku mengamati kondisi sekitar.
“Sebenarnya apa yang kau bawa di ranselmu itu?” tanya Asrul ingin tahu, mengamati ranselku yang gendut.
“Buku-buku sains,” jawabku,”Aku tidak bisa tidur lelap sebelum membaca ulang buku-buku ini”.
“Kau serius mau tidur di reyotku?”.
Aku mengangguk pelan.
“Apa yang mereka lakukan?” tanyaku heran pada orang-orang yang sedari tadi hilir mudik di jalan kecil yang hanya muat untuk satu mobil ini.
“Menyiapkan acara seni tahunan,” jawab Asrul seraya menambahkan,”Setiap satu tahun sekali para warga mengadakan acara seni, berbagai penampilan seni Indonesia ditampilkan di sana. Tapi pesertanya dari warga sendiri”.
“Acara seni?” tanyaku heran,”Bagaimana mungkin”.
Sekilas Aku menyoroti beberapa warga yang hilir mudik, membawa peralatan-peralatan dan aksesoris panggung. Pemandangan itu tampak ganjil bagiku.
“Pembiayaannya maksudmu?” Asrul balik bertanya, lalu berteriak tiba-tiba seraya menunjuk seorang laki-laki tua,”Itu dia”.
Tiba-tiba Asrul menarik lenganku, lalu menyeretku ke arah laki-laki itu.
“Ada apa Asrul?” tanya laki-laki itu heran.
“Kenalkan pak, ini Yanu. Yanu, kenalkan ini Pak Jaelani,” kata Asrul,”Yanu sedang mengobservasi pemukiman kita, pak”.
Sontak Pak Jaelani melirikku tajam, namun kemudian dia berkata,”Asrul, de Yanu, maaf bapak mau pergi dulu. Ada urusan penting”.
Sekejap, laki-laki tua itu pun pergi, melangkah buru-buru.
“Dia lah yang membiayai semua ini”.
Aku memicingkan mata, tak percaya.
“Dia punya kemampuan gaib yang bisa mendatangkan uang lho,” jelas Asrul seketika melihat raut kebingungan di wajahku.
“Siapa sebenarnya Pak Jaelani itu?” selidikku.
“Dia seorang pelatih seni di pemukiman ini,” jawab Asrul,”Itu rumahnya. Tepat berada di samping rumahku”.
Aku memperhatikan seksama rumah itu. Tampak di luarnya berbagai benda-benda seni menghias di sana-sini; topeng, patung estetik, kain bermotif unik dan masih banyak lagi.
Sementara itu Aku mengingat wajah Pak jaelani tadi, dia terlihat lesu, pelupuk matanya kendor, tubuhnya kurus tak terawat, tampak stres.
Malam harinya seusai membaca beberapa buku, Aku tertidur pulas. Beberapa saat sesudahnya tanpa sepengetahuanku Asrul masih terjaga, dia mengambil beberapa buku bawaanku. Lalu dengan gegas dia beranjak keluar rumah, membawa buku-buku itu. Di luar rumah, Asrul yang sedianya hendak membaca buku-buku itu mengganti niatnya dengan kesibukan lain. Dia bersembunyi dari balik pintu reyotnya, mengamati mobil pick up di depan rumah Pak Jaelani. Dalam beberapa menit Pak Jaelani keluar, dibelakangnya tampak dua orang laki-laki yang tak dikenalnya. Mereka masuk ke dalam mobil.
“Dia pasti melarikan diri karena tidak bisa membiayai acara ini! Keseluruhan harga sewa peralatan belum dibayarnya, bukan?” seru seorang warga di pagi hari, dia sedang asyik berkumpul bersama warga lainnya di depan rumah Pak Jaelani.
“Kenapa begitu?” sindirku tiba-tiba, Aku ikut membaur dalam kerumunan,”Bukankah Pak Jaelani bisa mendatangkan uang secara instan”.
“Mungkin sekarang dia sudah tidak bisa melakukan hal itu lagi,” ejek warga itu,”Lalu sekarang dia pergi karena malu”.
“Tidak!” seru Asrul tiba-tiba,”Pak Jael tidak lari, dia diculik”.
“Hei anak cungut diam kau! Jangan membual!”
Sementara itu Aku bergegas menyeret Asrul keluar dari kerumunan.
“Asrul, Aku tahu kau tidak berbohong. Tapi tolong jangan gegabah,” kataku datar,”Kalaupun kau memberitahu warga bahwa Pak Jael diculik, mereka pastinya bakal berspekulasi Bagaimana bisa? Bukankah dia punya kemampuan gaib?Kok bisa diculik? ”.
“Ayo kita cari mobil penculik itu!” ajak Asrul, “Aku hafal deskripsinya”.
Aku terdiam, ingin rasanya menolak ajakan itu tapi Aku tidak tega memadamkan semangatnya.
“Tapi Aku mau berkemas dulu”.
“Ya, Aku juga,” ucap Asrul, tersenyum kecut.
Akhirnya, di Minggu ini Aku menghabiskan waktuku untuk mencari mobil yang dideskripsikan Asrul itu. Namun ayal, sampai fajar menyingsing kami sama sekali tak berhasil menemukannya.
“Istirahat dulu yuk,” ajak Asrul seraya melangkah ke kedai kecil di tepi jalan.
Kami membeli dua botol air mineral, dan dalam waktu singkat kami berhasil mentransparankan botol itu.
“Satu bungkus rokok bu,” pinta seorang laki-laki dari belakang seraya menyodorkan uang dua puluh ribuan.
Laki-laki itu pun berbalik, lalu masuk ke dalam mobil yang diparkir di tepi jalan.
“Itu mobilnya! Itu mobil penculiknya!” seru Asrul melengking.
Seorang laki-laki mendorong Aku dan Asrul ke dalam sebuah ruangan yang gelap, pengap. Ruangan itu tampak lebih hina dari gudang, ventilasi pun tak ada. Sehingga tak ayal debu pun menggelitik tajam dan masuk tanpa permisi ke dalam paru-paru.
“Asrul!” terdengar suara dari pojok ruangan.
“Pak Jael,” balas Asrul.
“Kenapa kalian ada di sini nak?” tanya laki-laki itu, tampak gusar.
Aku menghela nafas panjang, menekan gelitikan debu-debu nakal itu,”Ceritanya panjang”.
Pak Jaelani melangkah kembali ke pojok ruangan, tampak ingin bersembunyi.
“Kenapa pak?”.
Aku duduk di depannya, seakan tahu dia akan bercerita tentang sesuatu.
“Mereka menculikku dengan harapan Aku bisa membuat mereka kaya raya dengan ilmu gaibku,” kata Pak Jaelani,”Mereka mengira Aku benar-benar bisa melakukannya. Papadahal”.
“Jadi Pak Jael tidak bisa mendatangkan uang dari kemampuan gaib?” potong Asrul, kaget,”Lalu dari”.
“10 Tahun lalu ada seorang asing yang mampir ke rumahku, dan seketika melihat berbagai barang seni dan pelatihan seni yang Aku ajarkan pada warga, dia tertarik. Bahkan dia memintaku untuk mengajarinya tentang seni Indonesia. Tapi suatu ketika tiba-tiba warga menghakiminya. Ternyata dia seorang pencabul anak-anak warga di pemukiman kita. Namun demikian Aku menolongnya dari amukan warga, dan dia pun berhasil kabur, lalu pulang ke negaranya”.
“Kenapa bapak menolongnya?”.
“Dia sudah bertaubat, bahkan dia bersyahadat Nak. Di depan bapak dia menangis, menyesal”.
Aku diam, masih mendengarkan seksama penuturan Pak Jaelani.
“Setahun kemudian dia mengabariku bahwa dia telah sukses. Dia membuka sanggar pelatihan seni di negaranya. Di akhir suratnya dia menyuruhku untuk mengadakan acara seni di pemukiman kita, bahkan dia menawarkan diri sebagai donatur. Tapi, dia melarangku untuk menyebutnya atas asal muasal biaya untuk acara itu. Karena pastinya warga tidak akan sudi menerimanya. Lalu, akhirnya terciptalah intrik itu”
Suara hening, sementara itu Asrul sekarang tampak menepi di sebelah pintu, memegang balok kayu.
Kami bertiga berada di luar, menunggu kematian.
“Lepaskan Asrul!” jeritku serak, terikat tali bersama Pak Jaelani.
Sementara itu Asrul tampak meronta, berusaha melepaskan diri dari kekangan seorang laki-laki dan pistol yang terarah ke ubun-ubunnya.
“3, 2,..,”
Seketika itu tali yang mengikatku lepas, dengan gegas Aku pun menyeruduk rubuh laki-laki yang mengekang Asrul.
“Yes!” seruku.
“Skak,” kata seorang laki-laki lain menodongkan pistolnya ke pelipisku.
Dan dalam sepersekian detik kemudian, bunyi yang memekakan telinga terdengar. Aku jatuh tersungkur, sementara itu laki-laki tadi rubuh tak bergerak di sebelahku, mati.
Suasana begitu ramai, gemerlap oleh lampu sorot panggung dan kilauan bintang malam. Cercahan erotik malam gedung-gedung Jakarta pun ikut bergaung di sana. Orang-orang berpakaian nyentrik tampak hilir-mudik, turun dan naik panggung. Sementara itu di bagian bawahnya, sekumpulan orang-orang berkelas tampak asyik menonton pertunjukan demi pertunjukan seni di atas panggung.
“Hi Srul!” panggilku pada sesosok bocah yang mengenakan kostum wayang.
“Hi”
“Sehatkah kau?”
“Sure,” jawab Asrul,”Oh ya, terima kasih kau telah menolongku waktu itu”.
Aku tersenyum datar.
“Sama-sama, berkat kau kini Aku juga telah tahu makna hidup sesungguhnya. Hidup itu belajar, tapi bukan sains, fisika, atau filosofi. Dia merupakan sesuatu yang luhur, tak bisa diungkapkan. Namun bisa kita temukan dari bagaimana cara kita menatap, bernafas, berpikir, dan berbuat. Yah, hidup itu belajar!”.
Asrul tersenyum hampa. Dia berbalik, melangkah menuju pintu belakang panggung.
“Oh ya Srul, menurutmu kenapa ya polisi dan warga pemukiman ini tempo hari bisa mengetahui tempat kita disekap?” tanyaku heran, “Padahal kan tidak ada orang yang”.
Aku tidak melanjutkan kalimatku, seketika itu Asrul terkekeh, tampak menghinaku.